Ikuti kami di Instagram         Tetap Terhubung

Muharam dan Jalan Perlawanan: Ketika Buruh Menolak Diam di Tengah Krisis


Setiap kali Muharam tiba, umat Islam mengenang sebuah peristiwa besar yang mengubah jalannya sejarah. Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah titik balik perjuangan melawan penindasan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan.

Di Makkah, kaum Muslim saat itu hidup dalam tekanan. Mereka menghadapi intimidasi, pengucilan, perampasan hak, bahkan kekerasan. Mereka adalah kelompok yang secara politik lemah dan secara ekonomi tidak memiliki kekuatan besar untuk melawan elite Quraisy yang menguasai perdagangan, kekuasaan, dan sumber daya.

Situasi itu mungkin terjadi lebih dari empat belas abad yang lalu. Namun dalam bentuk yang berbeda, persoalan yang sama masih dapat kita temukan hari ini.

Banyak buruh Indonesia juga hidup dalam situasi yang tidak sepenuhnya adil. Mereka bekerja keras setiap hari, menggerakkan roda produksi, menghasilkan keuntungan, dan menopang pertumbuhan ekonomi. Namun ketika hasil keuntungan dibagikan, sering kali mereka justru menerima bagian paling kecil.

Ketika harga kebutuhan pokok naik, buruh yang pertama merasakan dampaknya.
Ketika perusahaan melakukan efisiensi, buruh yang pertama dikorbankan.
Ketika terjadi perlambatan ekonomi, buruh yang pertama diminta memahami keadaan.
Tetapi ketika keuntungan perusahaan meningkat, kesejahteraan buruh tidak selalu ikut meningkat.
Di sinilah letak kesamaannya.

Sebagaimana kaum Muslim awal menghadapi struktur kekuasaan yang tidak berpihak kepada mereka, banyak buruh hari ini juga berhadapan dengan sistem yang sering kali menempatkan mereka pada posisi yang lebih lemah dibanding pemilik modal dan pengambil kebijakan.

Tentu perbandingan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan secara persis dua peristiwa yang berbeda zaman dan konteks. Namun ada satu pelajaran penting yang tetap relevan: ketidakadilan tidak pernah hilang dengan sendirinya.

Ketidakadilan hanya bisa diubah ketika mereka yang mengalaminya memilih untuk bergerak bersama.

Salah satu hal yang sering terlupakan ketika membahas hijrah adalah bahwa Nabi tidak berhijrah seorang diri.

Hijrah bukan kisah tentang kepahlawanan individu.

Hijrah adalah kisah tentang organisasi, persaudaraan, dan solidaritas.

Ketika sampai di Madinah, langkah pertama yang dilakukan Nabi bukan membangun kekuatan seorang diri. Beliau membangun komunitas. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Mengorganisir kekuatan sosial yang sebelumnya tercerai-berai menjadi satu kesatuan yang memiliki tujuan bersama.

Dari situlah lahir kekuatan.
Bukan dari jumlah harta.
Bukan dari kekuasaan.
Tetapi dari persatuan.
Pelajaran ini sangat penting bagi gerakan buruh hari ini.

Sebab salah satu alasan mengapa ketidakadilan di tempat kerja terus terjadi adalah karena masih banyak pekerja yang menghadapi masalah secara sendiri-sendiri.

Ketika upah tidak dibayar, mereka menghadapi sendiri.
Ketika hak-hak dilanggar, mereka menghadapi sendiri.
Ketika diintimidasi, mereka menghadapi sendiri.

Padahal sejarah membuktikan bahwa pekerja yang berdiri sendiri mudah ditekan. Sebaliknya, pekerja yang terorganisir memiliki kekuatan untuk memperjuangkan haknya.

Karena itu, jika hijrah pada masa Nabi adalah proses membangun kekuatan umat melalui persaudaraan dan organisasi, maka hijrah kaum buruh hari ini adalah proses membangun kekuatan pekerja melalui serikat dan solidaritas.

Muharam tahun ini hadir di tengah berbagai persoalan yang menghimpit kehidupan rakyat pekerja. Biaya hidup terus meningkat. Ancaman PHK masih menghantui diberbagai sektor. Praktik kerja tidak layak masih ditemukan di banyak tempat. Kebebasan berserikat pun belum sepenuhnya terjamin.

Dalam situasi seperti ini, diam bukanlah pilihan.
Diam tidak akan membuat upah menjadi layak.
Diam tidak akan menghentikan pelanggaran hak.
Diam tidak akan memperbaiki kondisi kerja.

Karena itu, jalan perlawanan yang paling penting bagi kaum buruh hari ini bukanlah jalan individualisme, melainkan jalan bersama melalui organisasi.

Jalan perlawanan itu bernama serikat pekerja.

Tempat di mana buruh belajar bahwa persoalan satu pekerja adalah persoalan bersama.
Tempat di mana solidaritas dibangun.
Tempat di mana keberanian dilahirkan.
Tempat di mana harapan diorganisir menjadi kekuatan.

Muharam mengajarkan bahwa perubahan sejarah selalu dimulai ketika orang-orang yang tertindas berhenti menghadapi masalah sendirian dan mulai bergerak bersama.

Bagi buruh, makna hijrah hari ini adalah berani melawan ketidakadilan, bersatu dengan sesama pekerja, dan mengorganisir diri agar lebih kuat memperjuangkan hak-haknya.

Sebab buruh yang tercerai-berai hanya akan menjadi angka statistik. Tetapi buruh yang bersatu dapat menjadi kekuatan yang mengubah sejarah.

Berserikat adalah jalan perlawanan terhadap ketidakadilan. Bersolidaritas adalah jalan bersama menuju kemenangan.

Serbuk adalah serikat buruh yang di dirikan pada 11 Desember 2013.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.