Ikuti kami di Instagram         Tetap Terhubung
Postingan

Perlindungan Sosial bagi Pekerja Rentan: Pelajaran dari Filipina

Tertanggal 3 Juni 2025, Federasi SERBUK (Serikat Buruh Kerakyatan) Indonesia bekerja sama dengan Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kuliah dosen tamu bertajuk “Social Protection for the Precarious Workers: Lessons from the Philippines.” Kegiatan yang berlangsung di ruang Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini menghadirkan Emir Tumanon, seorang pemimpin serikat pekerja dan advokat hak-hak buruh dari Filipina dan Husain Maulana, Sekjen Federasi SERBUK Indonesia. Kuliah guest lecturer ini menjadi sarana penting untuk memperkenalkan peran serikat pekerja dalam mendorong perlindungan sosial, keadilan sosial, dan kesejahteraan pekerja, khususnya pekerja migran.

Diskusi yang disampaikan menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi pekerja rentan serta pentingnya aksi kolektif dalam memperjuangkan hak-hak pekerja dan perlindungan sosial. Berdasarkan pengalaman Filipina, Emir dan Husain menjelaskan bagaimana serikat pekerja dapat menjadi wadah bagi para pekerja untuk berorganisasi, menyuarakan aspirasi mereka, serta memperoleh akses terhadap berbagai bentuk perlindungan sosial. Paparannya menunjukkan bahwa serikat pekerja tidak hanya berfokus pada upah dan kondisi kerja, tetapi juga pada isu yang lebih luas seperti martabat manusia, inklusi sosial, dan pemberdayaan.

Salah satu tema utama yang dibahas dalam kuliah ini adalah konsep Empat Dimensi Kemiskinan (Four Dimensions of Poverty) yang menawarkan perspektif yang lebih komprehensif dalam memahami kemiskinan. Menurut konsep tersebut, kemiskinan terdiri dari empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu:

  • Sumber Daya (Resources), yang mencakup aset material maupun nonmaterial seperti tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan akses terhadap teknologi.
  • Kesempatan dan Pilihan (Opportunity and Choice), yaitu kemampuan individu untuk memanfaatkan sumber daya dan peluang yang tersedia guna meningkatkan kualitas hidupnya.
  • Kekuasaan dan Suara (Power and Voice), yang menekankan pentingnya partisipasi dalam proses pengambilan keputusan serta kemampuan untuk memperjuangkan hak-haknya.
  • Keamanan Manusia (Human Security), yang mencakup perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, dan berbagai bentuk kerentanan sosial.

Perspektif multidimensional ini menantang pandangan umum bahwa kemiskinan dapat diselesaikan hanya dengan peningkatan pendapatan. Emir menegaskan bahwa seseorang tetap dapat mengalami kemiskinan meskipun kondisi ekonominya membaik apabila ia tidak memiliki akses terhadap proses pengambilan keputusan, perlindungan sosial, maupun kesempatan yang setara. Bagi pekerja rentan, terutama pekerja migran, tantangan tersebut sering kali semakin kompleks karena adanya hambatan hukum, sosial, dan budaya di negara tempat mereka bekerja.

Topik penting lainnya yang dibahas adalah mengenai pentingnya proses pengambilan keputusan yang adil (fair decision-making processes) dalam organisasi maupun masyarakat. Transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas dipandang sebagai prinsip utama dalam membangun kepercayaan dan solidaritas di antara para pekerja. Selain itu, Emir juga memperkenalkan konsep kesadaran psikososial (psychosocial awareness) yang menekankan pentingnya memahami kondisi emosional dan sosial yang dialami pekerja. Menurutnya, organisasi yang mengedepankan inklusivitas dan kesejahteraan anggotanya akan lebih mampu mendorong aksi kolektif yang berkelanjutan dan perubahan sosial yang positif.

Refleksi Bersama: dari Mahasiswa Internship

Kuliah umum ini memberikan kami pemahaman yang lebih mendalam mengenai kemiskinan, hak-hak pekerja, dan perlindungan sosial. Sebelum mengikuti kegiatan ini, kami cenderung memandang kemiskinan sebagai masalah yang berkaitan dengan kurangnya pendapatan atau sumber daya ekonomi. Namun, pembahasan mengenai Empat Dimensi Kemiskinan membuat kami menyadari bahwa kemiskinan merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Akses terhadap sumber daya saja tidak cukup apabila seseorang tidak memiliki kesempatan untuk memanfaatkannya, tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan, atau tidak memperoleh keamanan untuk hidup secara bermartabat.

Salah satu pelajaran yang paling berkesan dari kuliah umum ini adalah pembahasan mengenai hubungan antara pendapatan dan pemberdayaan. kami memahami bahwa peningkatan pendapatan tidak secara otomatis menghapus kemiskinan apabila pekerja masih terpinggirkan dari proses pengambilan keputusan atau tidak memiliki perlindungan hukum dan sosial yang memadai. Pemahaman ini memperkuat pentingnya dimensi “Kekuasaan dan Suara”, khususnya bagi pekerja rentan yang sering kali menghadapi keterbatasan representasi dan berbagai bentuk ketertindasan oleh pemberi kerja dan negara. 

kami juga terinspirasi oleh penekanan Emir dan Husain mengenai solidaritas dan aksi kolektif. Pengalamannya menunjukkan bahwa perubahan sosial yang bermakna lebih sering dicapai melalui kerja sama dibandingkan melalui upaya individu semata. Oleh karena itu, serikat pekerja memiliki peran penting tidak hanya dalam melindungi hak-hak pekerja, tetapi juga dalam membangun rasa kebersamaan, partisipasi, dan tanggung jawab sosial. Sebagai mahasiswa, kita dapat berkontribusi dengan meningkatkan kesadaran mengenai isu ketenagakerjaan, mendukung kelompok rentan, dan mendorong kebijakan yang berorientasi pada keadilan sosial dan kesetaraan.

Selain itu, pengalaman Filipina memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi Indonesia. Sebagai salah satu negara pengirim pekerja migran terbesar di dunia, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan terkait perlindungan tenaga kerja, akses terhadap layanan sosial, dan pemenuhan hak-hak pekerja. Strategi dan pengalaman yang dibagikan dalam kuliah umum ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi pekerja, institusi pendidikan, dan masyarakat sipil dalam membangun sistem perlindungan sosial yang efektif dan berkelanjutan.

Kesimpulan: Pentingnya Solidaritas dan Aksi Kolektif

Secara keseluruhan, kuliah umum ini sangat informatif dan inspiratif. Kegiatan ini memperluas pemahaman kami mengenai realitas yang dihadapi pekerja rentan serta menegaskan pentingnya peran serikat pekerja dalam mengatasi kemiskinan multidimensional dan ketimpangan sosial. Pelajaran yang diperoleh dari pengalaman Filipina menunjukkan bahwa sistem perlindungan sosial yang inklusif harus mampu menjamin akses terhadap sumber daya, kesempatan, partisipasi, dan keamanan bagi seluruh pekerja. 

Sebagai mahasiswa, saya memperoleh apresiasi yang lebih besar terhadap pentingnya aksi kolektif dan solidaritas sosial dalam mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan setara. Kolaborasi antara Federasi SERBUK Indonesia, ABC Union Philipines dan Prodi IKS Sunan Kalijaga Yogyakarta mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong diskusi kritis mengenai hak-hak pekerja, perlindungan sosial, dan keadilan sosial di kalangan mahasiswa. Kegiatan semacam ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran serta mendorong generasi muda agar lebih peduli terhadap isu-isu yang memengaruhi pekerja dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Melalui dialog akademik dan pertukaran pengetahuan, mahasiswa didorong untuk memahami persoalan ketenagakerjaan kontemporer beserta dampak sosialnya secara lebih mendalam. 

Kolaborasi ini juga menjadi wadah penting untuk menghubungkan perspektif akademik dengan pengalaman nyata di tingkat akar rumput, sehingga mahasiswa dapat berperan aktif dalam mendorong perubahan sosial dan memperjuangkan masyarakat yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Kegiatan ini tidak hanya memperdalam pemahaman kami mengenai isu pekerja rentan, tetapi juga mendorong kami untuk merefleksikan pentingnya advokasi, partisipasi, dan tanggung jawab kolektif. Dari pengalaman ini kami menyadari bahwa perlindungan sosial bukan sekadar persoalan kebijakan, melainkan bagian fundamental dari hak asasi manusia dan keadilan sosial. Oleh karena itu, memperkuat organisasi pekerja serta meningkatkan kesadaran generasi muda merupakan langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang memungkinkan setiap pekerja hidup dan bekerja dengan martabat, keamanan, dan kesempatan yang setara. Di tengah arus globalisasi yang terus membentuk pola perubahan status tenaga kerja di berbagai belahan dunia, kebutuhan akan mekanisme perlindungan yang lebih kuat serta representasi pekerja yang lebih baik menjadi semakin penting. 

Wawasan yang dibagikan dalam kuliah umum ini menunjukkan bahwa pembangunan sosial yang berkelanjutan hanya dapat tercapai ketika para pekerja diberdayakan, hak-hak mereka dihormati, dan suara mereka dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Pada akhirnya, pelajaran dari Filipina memberikan inspirasi berharga bagi Indonesia dan negara-negara lain dalam membangun sistem perlindungan sosial yang lebih inklusif, demokratis, dan berorientasi pada kepentingan pekerja.

Kegiatan ini menegaskan bahwa terwujudnya keadilan sosial memerlukan kolaborasi antara pemerintah, organisasi pekerja, institusi pendidikan, dan masyarakat sipil. Sebagai mahasiswa, kami terdorong untuk terus mempelajari isu-isu ketenagakerjaan dan berkontribusi, dalam kapasitas yang saya miliki, terhadap upaya perlindungan sosial dan pemenuhan hak-hak pekerja. Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda dapat memainkan peran penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan berperikemanusiaan bagi generasi mendatang.

Disusun oleh: 

Tim Student Internship Prodi Hubungan Internasional Universitas Amikom Yogyakarta

- Lindi (dilengkapi namanya)

- Titus (dilengkapi namanya)

- Vale (dilengkapi namanya)

Serbuk adalah serikat buruh yang di dirikan pada 11 Desember 2013.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.