Ikuti kami di Instagram         Tetap Terhubung
Postingan

Pendidikan Tematik SERBUK Indonesia Komwil Jateng-DIY: Membangun Strategi Pengorganisiran dan Menguatkan Serikat Pekerja


YOGYAKARTA, 12 September 2026 — Federasi SERBUK Indonesia Komite Wilayah Jawa Tengah-DIY kembali menyelenggarakan pendidikan serikat pekerja dengan mengangkat tema “Strategi Pengorganisiran dan Penguatan Serikat Pekerja”. Pendidikan yang berlangsung pada Sabtu (12/9/2026) ini dilaksanakan di Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Kegiatan diikuti oleh perwakilan dari 12 Serikat Buruh Anggota (SBA) Federasi SERBUK Indonesia Komwil Jateng-DIY, Pengurus Komwil Jateng-DIY, serta perwakilan Komite Eksekutif Federasi SERBUK Indonesia.

Pendidikan tematik hari pertama ini menempatkan pengorganisiran sebagai salah satu kunci utama dalam membangun dan memperkuat gerakan serikat pekerja. Pengorganisiran tidak semata-mata dimaknai sebagai aktivitas merekrut anggota sebanyak-banyaknya, tetapi juga bagaimana serikat mampu mempertahankan anggota, membangun kesadaran kelas, mengembangkan kapasitas anggota, serta mencetak pemimpin-pemimpin baru di dalam organisasi.

“Untuk menjadi organiser bukan saja harus punya konsistensi dan ketekunan luar biasa, tapi ia                 harus     mau terus belajar dan lebih banyak mendengar alih-alih banyak bicara.”

Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi penting dalam pendidikan hari pertama. Seorang organiser dituntut bukan hanya mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga memiliki kemampuan mendengar, memahami persoalan pekerja, membangun kepercayaan, serta hadir secara konsisten dalam proses perjuangan.

Pendidikan dibuka dengan sambutan Ari selaku Ketua Komwil Jateng-DIY. Dalam sambutannya, Ari menekankan pentingnya pendidikan bagi anggota dan pengurus serikat sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman mengenai serikat pekerja.

“Pendidikan ini penting dilaksanakan dengan harapan bahwa anggota bisa memahami lebih jauh mengenai apa itu serikat pekerja, sejarahnya, serta apa pentingnya bergabung dengan serikat pekerja,” ujar Ari.

Menurutnya, pemahaman tersebut tidak boleh berhenti di ruang pendidikan. Setelah mengikuti pendidikan, anggota dan pengurus diharapkan mampu menyampaikan kembali pengetahuan yang diperoleh kepada pekerja lain yang belum bergabung dengan serikat.

“Kedepan setelah selesai pendidikan semacam ini, pengurus maupun anggota serikat bisa menyampaikan arti penting adanya serikat kepada teman-teman yang belum tergabung dengan serikat di luaran sana. Penyebaran informasi ini secara sederhana bisa melalui gethok tular kepada sesama pekerja. Kemudian ketika banyak yang tergabung dan anggota semakin banyak, maka serikat akan semakin kuat,” tegasnya.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pengorganisiran pada dasarnya merupakan proses membangun kesadaran secara terus-menerus. Seorang pekerja yang telah memahami arti penting berserikat memiliki peran untuk mengajak pekerja lainnya memahami bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak harus dihadapi seorang diri.

Sementara itu, pengantar pendidikan disampaikan oleh Husain Maulana, Sekretaris Jenderal Federasi SERBUK Indonesia. Ia menegaskan bahwa pendidikan serikat harus menjadi ruang yang inklusif, dengan memberikan hak yang sama kepada setiap peserta serta memastikan seluruh peserta merasa nyaman dan aman selama mengikuti proses pendidikan.

Dalam kesempatan tersebut, Husain juga mengajak peserta untuk melihat kembali sejarah perjuangan buruh, khususnya melalui keteladanan dua tokoh yang memiliki keterkaitan erat dengan lokasi pendidikan, yakni Ki Hadjar Dewantara dan R.M. Suryapranoto.

“Saya sedikit ingin menyampaikan bahwa saya teringat dengan tempat pelaksanaan pendidikan kita bertepatan dengan tempat dimakamkannya dua tokoh penting dari perjuangan buruh di masa lalu, yaitu Ki Hadjar Dewantara dan R.M. Suryapranoto. Dua tokoh kakak beradik ini punya peran penting dalam perjuangan buruh dan serikat pekerja,” jelas Maulana.

Menurutnya, perjuangan kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa gerakan buruh memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan hak-hak pekerja sekaligus membangun kesadaran melalui pendidikan.

“Selain berperan dalam dunia pendidikan, Ki Hadjar Dewantara merupakan orang yang menerjemahkan sebuah lagu perjuangan buruh global berjudul Internasionale menjadi versi Bahasa Indonesia. Sedangkan Suryopranoto dikenal sebagai ‘raja mogok’, sebab ia sering memimpin mogok kerja di pabrik-pabrik waktu itu, ketika pekerja tidak mendapatkan hak-haknya,” lanjutnya.

Bagi SERBUK, memahami sejarah perjuangan buruh bukan sekadar mengingat masa lalu. Sejarah menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana serikat pekerja tumbuh, bagaimana perjuangan dilakukan, serta mengapa pengorganisasian tetap relevan dalam menghadapi persoalan dunia kerja hari ini.

Pentingnya Strategi Pengorganisiran

Materi utama mengenai Strategi Pengorganisiran dan Penguatan Serikat Pekerja disampaikan oleh Wahyu Nur Huda, Koordinator Departemen Pendidikan, bersama Fajar Setyo Nugroho, Koordinator Departemen Pengembangan Organisasi Federasi SERBUK Indonesia.

Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami sejarah perkembangan serikat pekerja sejak abad ke-19 hingga pengaruhnya terhadap dunia kerja saat ini.

Pembahasan kemudian diarahkan pada prinsip-prinsip dasar pengorganisiran. Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya data dan investigasi sebagai fondasi dalam menjalankan kerja-kerja pengorganisasian.

Pengorganisir tidak dapat bekerja hanya berdasarkan asumsi. Ia harus mengetahui kondisi pekerja, persoalan yang mereka hadapi, relasi kerja di tempat kerja, karakter pekerja, hingga berbagai persoalan yang berpotensi menjadi pintu masuk pengorganisasian.

Selain kemampuan membaca situasi, seorang organiser juga dituntut memiliki karakter yang kuat. Konsistensi, ketekunan, kemauan untuk terus belajar, serta kemampuan mendengar menjadi bagian penting dalam proses membangun hubungan dengan pekerja.

Menjadi organiser bukan pekerjaan instan. Kepercayaan pekerja tidak dapat dibangun hanya melalui satu kali pertemuan. Ia membutuhkan proses, kehadiran yang konsisten, komunikasi yang terus terjaga, serta kemampuan untuk memahami persoalan pekerja dari perspektif mereka sendiri.

Simulasi Praktik Pengorganisiran

Pendidikan ini tidak berlangsung dalam bentuk ceramah satu arah. Peserta diajak berdiskusi dan melakukan simulasi pengorganisasian secara berkelompok.

Dalam simulasi tersebut, peserta berperan sebagai sebuah serikat pekerja yang harus melakukan pendekatan kepada pekerja di sebuah pabrik dan meyakinkan mereka untuk bergabung dengan serikat.

Melalui simulasi tersebut, peserta dihadapkan pada berbagai situasi yang dapat muncul dalam proses pengorganisasian. Peserta dituntut untuk mampu membaca karakter pekerja, menentukan pendekatan yang tepat, mendengarkan persoalan yang dihadapi pekerja, serta membangun kepercayaan sebelum mengajak mereka bergabung dengan serikat.

Metode ini membuat proses pendidikan berlangsung lebih interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mencoba menerapkan prinsip-prinsip pengorganisasian dalam situasi yang mendekati kondisi nyata di lapangan.

Dari proses tersebut, peserta kembali diingatkan bahwa pengorganisasian bukan sekadar kemampuan berbicara dan mengajak pekerja menjadi anggota. Lebih jauh, pengorganisasian merupakan proses membangun kesadaran, kepercayaan, keberanian, solidaritas, dan kepemimpinan pekerja.

Pendidikan tematik hari pertama ini pada akhirnya menegaskan bahwa kekuatan serikat pekerja tidak hanya diukur dari jumlah anggota yang dimiliki. Lebih penting dari itu adalah sejauh mana anggota memiliki kesadaran, kapasitas, keberanian, dan kemampuan untuk terlibat aktif dalam perjuangan organisasi.

Serikat yang kuat adalah serikat yang mampu melahirkan kader dan pemimpin baru dari dalam organisasi. Karena itu, kerja pengorganisasian harus berjalan beriringan dengan pendidikan dan pengembangan organisasi.

Bagi Federasi SERBUK Indonesia Komwil Jateng-DIY, pendidikan ini menjadi bagian dari proses panjang untuk memperkuat fondasi organisasi sekaligus mempersiapkan generasi pekerja yang mampu melanjutkan perjuangan serikat di masa depan.

Sebab pada akhirnya, serikat pekerja bukan hanya tentang berapa banyak orang yang berhasil direkrut, tetapi tentang berapa banyak pekerja yang tumbuh menjadi manusia yang sadar, berani berserikat, mampu memimpin, dan siap memperjuangkan kepentingan kelas pekerja.

SERBUK Indonesia!
Berani Berjuang!
Pasti Menang!

Penulis ; Pamungkas Ramadani
Serbuk adalah serikat buruh yang di dirikan pada 11 Desember 2013.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.