ANGGI DAN ANGEL, DUA MALAIKAT KECIL DI RUMAH IRAWAN

 


Desember 2013, saya bertemu dengan Irawan di rumahnya. Kontrakan kayu di Jalan Subur Denpasar. Irawan adalah Buruh Outsourcing PLN rayon Denpasar yang mengalami kecelakaan kerja. Dipecat, tidak diurus oleh vendornya dan harus menanggung biaya pengobatan sendiri.

Usai pertemuan itu, dengan berbekal kronologi dan data-data yang tidak terlalu lengkap, kasus ini saya laporkan ke Dirjen Binawas Kemenaker RI di Jakarta. Dalam waktu tidak terlalu lama sesudah pemeriksaan oleh Disnaker Propinsi Bali, kemudian dia menelpon, mengabarkan kepada saya kalau akhirnya dia mendapatkan kompensasi kecelakaan kerja dari Jamsostek sebesar 51 juta.

Kemarin, 15 Mei 2017, saya berkunjung ke Denpasar dan berhasil kembali menemui Irawan. Berbekal informasi terbatas dari kawan-kawan OS PLN Denpasar, saya ditemani Faried Moechammad menemui Irawan. Sesudah berjalan kurang lebih 1 KM, kesasar masuk beberapa gang perkampungan, akhirnya saya bertemu. Rumah kontrakannya sudah pindah sekitar 500 meter dari kontrakan lama.

Di depan rumahnya, saya bersua dengan Istrinya. Dia tidak mengenal saya meski saya menyebutkan nama. Tahun 2013, ketika saya berkunjung ke rumahnya menjelang maghrib, dia sedang berkeliling kampung menjajakan nasi bungkus. Irawan ditinggal sendiri di rumah dalam kondisi sakit akibat luka bakar. Ada dua gadis yang masih kecil di rumah itu. Dua anak ini yang menemani Irawan dan mengambilkan minuman ketika Irawan membutuhkannya. Kemarin saya baru sempat berkenalan, namanya Angel dan Anggi. Kelas 5 dan kelas 4 SD. Sepanjang saya ngobrol dengan Ayah Bundanya, Angel dan Anggi bermain membuat layangan kain di pelataran bersama teman-teman sebayanya.

Sesekali melirik anak-anak bermain, saya mencatat beberapa cerita Irawan. Saya, harus menahan amarah saat mendengar cerita Irawan yang dipenuhi kesengsaraan itu. Kesengsaraan yang disebabkan orang-orang tanpa kemanusiaan di luar dirinya.

Menurut pegawai Disnaker, kompensasi kecelakaan kerja yang dia terima sebesar 86 juta rupiah. Uang itu, entah gimana ceritanya berada di tangan Iriyani, pegawai Jamsostek. Duit itu, baru 20 hari berikutnya ditransfer sebab Iriyani pulang kampung. Berapa yang ditransfer? Hanya 51 juta rupiah. Ada selisih sebesar 35 juta rupiah lagi, entah dimana. Kepada Iriyani, Irawan bertanya, “Kok cuma 51juta, sisanya kapan ditransfer ?” Bukan jawaban yang diterima, tapi justru caci maki penuh kemarahan. Irawan pasrah tak berdaya. Uang 51 juta itu, dipakainya membayar hutang, bayar kontrakan dan membelikan mesin jahit buat istrinya.

Berbulan berikutnya, Irawan masih harus berobat. Untuk biaya berobat, Irawan kembali menghubungi Bosnya di kantor. Tak ada hasil, si bos bilang : kamu sudah di PHK. Bukan urusan kantor.

Entah bagaimana ceritanya, kemudian dia mendapatkan bantuan seorang pengacara profesional di Denpasar. Sesudah surat kuasa dibuat, sang pengacara beraksi mendatangi bosnya. Berhasil! Irawan, berhasil mendapatkan uang pengganti biaya berobat sebesar 25 juta rupiah. Tapi, dia hanya menerima uang sebesar 15 juta rupiah, sebab sang Pengacara sudah memotong jasa pengacara sebesar 10 juta rupiah. Untuk kedua kalinya, saya harus menahan amarah.

Dengan menahan rasa marah teramat sangat, saya mencoba menenangkan Irawan yang begitu gusar. Sambil hercerita, dia membantu istrinya membersihkan gerobak. Istrinya, setiap sore mendorong gerobak itu untuk berjualan pecel ayam di sisi jalan Subur dekat rumahnya. “Mas Irawan hanya bisa membantu sebisanya. Mengelap gerobak dan kerjaan ringan lainnya. Sesudah kecelakaan, kemampuan aktivitasnya hanya tersisa 40% saja,” cerita istrinya dengan mata berkaca. Saya hanya tertegun mendengar semua cerita itu. Sesekali, Angel dan Anggi, dua gadis kecil itu sibuk mondar mandir membantu ibunya membelikan berbagai perlengkapan bumbu untuk memasak.

Sebelum pamitan pulang, saya masih menyisakan sedikit harapan. Irawan tegar. Dia bersedia menjadikan pengalamannya untuk berbagi dengan para korban yang lain. Ketika saya menceritakan pentingnya para korban kecelakaan kerja berhimpun dan bersuara, dia bersemangat. Semua korban, harus bicara kata Irawan dengan semangat. Kecelakaan kerja, yang merengut buruh dan kepala keluarga, membuat semua mimpi hilang. Beban ganda, harus ditanggung keluarga.

Sore itu, akhirnya saya meninggalkan rumah Irawan. Dua malaikat kecil itu, mengantarkan saya sampai ke depan gang rumahnya. Mereka berebut, bersalaman dan kemudian melambaikan tangan. “Bantuin Ayah, ya….,” kata mereka pelan.

Saya berjanji akan membantu Irawan. Tapi, akhirnya saya harus mengatakan, hanya Irawan sendiri yang bisa memperjuangkan nasibnya. Irawan harus bersuara. Tugas kita, menguatkan Irawan agar berdaya.