Ikuti kami di Instagram         Tetap Terhubung
Postingan

Iman dan Perjuangan


Ketika Spiritualitas Tidak Bisa Dipisahkan dari Realitas Ketidakadilan

Momentum peringatan hari besar keagamaan sering dipahami sebatas urusan spiritual: manusia diajak mendekatkan diri kepada Tuhan, memperkuat ibadah, dan memusatkan perhatian pada kehidupan setelah kematian. Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah iman hanya berbicara tentang langit, sementara manusia di bumi terus hidup dalam penderitaan, ketidakadilan, dan eksploitasi?

Di tengah situasi sosial hari ini, pertanyaan itu menjadi sangat relevan.

Ketika buruh di-PHK massal tanpa kepastian, ketika upah tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup, ketika pekerja dipaksa lembur tanpa perlindungan, ketika petani kehilangan tanah, ketika anak muda hidup dalam kecemasan masa depan, dan ketika negara lebih sering melindungi investasi dibanding kehidupan rakyat, maka iman tidak bisa hanya menjadi ritual yang sunyi dari kenyataan.

Iman yang sejati seharusnya melahirkan keberpihakan.

Dalam banyak tradisi keagamaan dan nilai spiritual, ajaran tentang kemanusiaan selalu menempati posisi penting. Hampir semua agama mengajarkan kasih sayang, keadilan, solidaritas, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kewajiban membela mereka yang lemah dan tertindas.

Karena itu, iman yang terputus dari penderitaan rakyat hanyalah kesalehan yang kosong.

Hari ini kita hidup di tengah dunia kerja yang semakin tidak manusiawi. International Labour Organization berkali-kali mengingatkan bahwa ketimpangan sosial global terus meningkat, sementara banyak pekerja hidup dalam kondisi kerja rentan, upah rendah, dan minim perlindungan. Di Indonesia, situasinya juga tidak jauh berbeda. Sistem kerja kontrak berkepanjangan, outsourcing, PHK sepihak, union busting, hingga kriminalisasi terhadap aktivis buruh masih terus terjadi.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jutaan pekerja Indonesia masih berada di sektor informal dengan perlindungan sosial yang lemah. Sementara itu, laporan berbagai organisasi masyarakat sipil menunjukkan bahwa kebebasan berserikat dan ruang demokrasi pekerja terus menghadapi tekanan.

Ironisnya, di saat rakyat diminta “bersabar” dan “bersyukur”, kekayaan segelintir elite justru terus bertambah. Ketimpangan ekonomi tumbuh berdampingan dengan glorifikasi kesalehan simbolik. Agama sering dipakai untuk menenangkan kemarahan sosial, bukan membongkar sumber ketidakadilan itu sendiri.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa iman pernah menjadi kekuatan pembebasan.

Di banyak tempat, tokoh agama dan komunitas iman pernah berdiri bersama rakyat kecil melawan kolonialisme, kediktatoran, perbudakan, diskriminasi, dan eksploitasi ekonomi. Banyak gerakan sosial lahir dari keyakinan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan secara tidak adil hanya demi kekuasaan dan keuntungan.

Spirit yang sama juga dapat ditemukan dalam banyak perjuangan rakyat di Indonesia. Banyak komunitas lintas agama terlibat dalam advokasi buruh, pendidikan rakyat, bantuan kemanusiaan, perlindungan korban kekerasan, hingga pembelaan terhadap kelompok rentan. Ini menunjukkan bahwa iman tidak selalu identik dengan sikap diam. Iman bisa menjadi energi moral untuk melawan sistem yang merendahkan martabat manusia.

Karena itu, tema “Iman dan Perjuangan” bukan sekadar slogan religius. Ini adalah ajakan untuk melihat kembali hubungan antara spiritualitas dan realitas sosial.

Apa arti beriman jika kita membiarkan pekerja diperas tanpa batas?
Apa arti ibadah jika kita menutup mata terhadap kemiskinan struktural?
Apa arti doa jika kita takut bersuara terhadap ketidakadilan?

Iman semestinya melahirkan keberanian untuk membela kehidupan.

Dalam konteks perburuhan, perjuangan menuntut upah layak, jaminan kesehatan, keselamatan kerja, hak berserikat, dan kehidupan yang manusiawi bukanlah tindakan melawan nilai moral. Justru itulah bagian dari upaya mempertahankan martabat manusia. Ketika buruh melawan eksploitasi, mereka sedang memperjuangkan nilai yang diajarkan hampir semua agama: keadilan, solidaritas, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Spirit keagamaan seharusnya tidak dimaknai sebagai pelarian dari persoalan dunia. Sebaliknya, momentum refleksi iman harus menjadi pengingat bahwa harapan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Bahwa cinta kasih tanpa keadilan akan berubah menjadi belas kasihan kosong. Bahwa spiritualitas tanpa keberpihakan mudah berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Hari ini dunia tidak kekurangan orang saleh. Dunia kekurangan orang yang berani membela yang lemah.

Maka “Iman dan Perjuangan” adalah panggilan untuk tetap manusiawi di tengah dunia yang semakin rakus. Tetap bersolidaritas di tengah individualisme. Tetap melawan ketika ketidakadilan dianggap biasa.

Karena iman yang hidup bukan iman yang hanya sibuk mengurus keselamatan pribadi.
Tetapi iman yang ikut memperjuangkan kehidupan yang lebih adil, setara, dan bermartabat bagi semua manusia.

Serbuk adalah serikat buruh yang di dirikan pada 11 Desember 2013.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.