(Memperingati Hari Buku Nasional)
Di sebuah kamar kontrakan sempit di kawasan industri, seorang buruh menutup harinya dengan tubuh lelah. Delapan hingga dua belas jam ia habiskan di pabrik, mengoperasikan mesin, memenuhi target produksi, menjaga ritme yang ditentukan oleh sistem. Ketika malam tiba, sisa tenaganya hampir habis. Namun di sudut ruangan, ada satu benda yang diam-diam menyimpan kemungkinan: sebuah buku.
Bagi sebagian orang, buku adalah hiburan. Bagi buruh, buku bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih penting sebagai alat untuk memahami mengapa hidup terasa begitu berat, mengapa kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan, dan mengapa ketidakadilan terus berulang.
Di sinilah literasi menemukan makna politiknya.
Indonesia sering dipuji sebagai negara dengan tingkat melek huruf yang tinggi. Data menunjukkan lebih dari 96% penduduk usia dewasa mampu membaca dan menulis. Namun angka ini menyimpan paradoks. Kemampuan membaca secara teknis tidak selalu berarti adanya kebiasaan membaca atau kemampuan memahami secara kritis.
Berbagai studi menunjukkan bahwa budaya literasi di Indonesia masih rapuh. Minat baca masyarakat sangat rendah, bahkan kerap disebut hanya sekitar 0,001%. Dalam studi PISA 2022, kemampuan membaca siswa Indonesia juga masih berada di bawah rata-rata banyak negara.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan realitas yang lebih dalam: akses terhadap pengetahuan masih timpang, dan literasi belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi kelas pekerja.
Bagi buruh, literasi bukan hanya soal ada atau tidaknya buku. Ia berkaitan dengan waktu, ruang, dan kondisi hidup. Jam kerja panjang, upah rendah, serta tekanan produksi membuat membaca menjadi kemewahan. Ketika kebutuhan dasar saja sulit dipenuhi, membeli buku seringkali bukan prioritas.
Di banyak kawasan industri, perpustakaan hampir tidak ada. Ruang diskusi terbatas. Akses terhadap bacaan yang relevan dengan pengalaman buruh juga minim. Yang lebih sering hadir justru arus informasi cepat dari media digital yang singkat, dangkal, dan jarang memberi ruang untuk berpikir mendalam.
Akibatnya, buruh didorong untuk terus bekerja, tetapi tidak diberi cukup ruang untuk memahami sistem yang mengatur kerja itu sendiri.
Padahal, di balik kesederhanaannya, literasi menyimpan potensi yang besar. Membaca bukan hanya soal memahami teks, tetapi juga membaca realitas. Dari sana, muncul kesadaran bahwa kondisi kerja bukan sesuatu yang alamiah, melainkan hasil dari relasi kuasa.
Ketika buruh mulai membaca tentang hukum ketenagakerjaan, sejarah perjuangan, atau analisis ekonomi, ia mulai melihat pola. Ia mulai memahami bahwa upah murah, kerja kontrak, dan minimnya perlindungan bukan kebetulan. Itu adalah bagian dari sistem.
Kesadaran semacam ini adalah titik awal dari perubahan.
Karena buruh yang memahami posisinya tidak lagi sekadar bertahan. Ia mulai mempertanyakan. Ia mulai berdiskusi. Ia mulai mengorganisir diri.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap gerakan besar selalu berakar pada pengetahuan. Buku, pamflet, dan tulisan-tulisan sederhana sering menjadi bahan bakar kesadaran kolektif. Dari ruang-ruang kecil, diskusi tumbuh. Dari diskusi, muncul pengetahuan.
Dalam konteks hari ini, literasi buruh bisa mengambil banyak bentuk. Tidak harus selalu buku tebal atau teori yang rumit. Ia bisa hadir dalam diskusi di sekretariat serikat, dalam buletin sederhana, dalam catatan pengalaman kerja, bahkan dalam konten digital yang dibuat sendiri oleh buruh.
Yang terpenting bukan bentuknya, tetapi prosesnya: memahami, berbagi, dan membangun kesadaran bersama.
Momentum 17 Mei, Hari Buku Nasional, seharusnya menjadi lebih dari sekadar ajakan membaca. Ia perlu dimaknai sebagai seruan untuk membuka akses pengetahuan seluas-luasnya bagi kelas pekerja.
Karena selama buku masih sulit dijangkau oleh buruh, selama ruang belajar masih terbatas, dan selama pengetahuan masih didominasi oleh segelintir pihak, maka ketimpangan akan terus dipertahankan.
Sebaliknya, ketika buruh mulai membaca, menulis, dan mendiskusikan pengalaman mereka sendiri, pengetahuan tidak lagi menjadi milik elit. Ia menjadi alat perjuangan.
Di akhir hari, di kamar kontrakan itu, buku yang tadi tergeletak mungkin belum selesai dibaca. Tapi satu halaman saja bisa cukup untuk membuka cara pandang baru. Satu paragraf bisa memicu pertanyaan. Dan satu gagasan bisa menyalakan kesadaran.
Perubahan memang tidak selalu datang secara tiba-tiba. Ia sering dimulai dari hal-hal kecil seperti dari membaca, dari memahami, dari berani berpikir.
Karena bagi buruh, literasi bukan sekadar kemampuan.
Ia adalah jalan menuju kesadaran.
Dan kesadaran adalah awal dari perjuangan.