Ikuti kami di Instagram         Tetap Terhubung
Postingan

Tidak Semua yang Dikurbankan Pernah Dipilih


Pagi 27 Mei 2026 tidak datang dengan sunyi. Ia selalu datang dengan gema takbir yang memantul dari masjid ke gang-gang sempit, dari kota ke desa, dari pengeras suara ke kepala kita masing-masing. Seolah-olah semua orang sepakat bahwa hari itu adalah tentang pengorbanan.

Tapi tidak semua pengorbanan lahir dari pilihan.

Ada yang dipersiapkan dengan doa, ada yang dipaksakan oleh keadaan.

Di halaman-halaman tempat penyembelihan, hewan-hewan ditenangkan sebelum dikurbankan. Mereka diperlakukan dengan kehati-hatian, bahkan dengan kasih sayang terakhir. Sebuah penghormatan sebelum pengorbanan terjadi.

Namun di tempat lain seperti di pabrik, di kebun, di gudang logistik, di proyek-proyek yang tak pernah benar-benar selesai, pengorbanan tidak pernah diberi jeda, apalagi penghormatan. Ia berlangsung setiap hari, tanpa seremoni, tanpa takbir, tanpa pengakuan.

Dan ironisnya, itu dianggap normal.

Kita diajarkan bahwa Idul Adha adalah tentang keikhlasan. Tentang Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan apa yang paling ia cintai. Tapi ada satu hal yang jarang dibicarakan: Ibrahim memilih untuk taat. Ada kesadaran. Ada kehendak.

Sementara hari ini, jutaan pekerja tidak sedang memilih untuk berkorban, mereka diposisikan untuk tidak punya pilihan.

Ketika upah tidak cukup untuk hidup layak, itu disebut “kondisi pasar.”
Ketika kontrak diputus sepihak, itu disebut “efisiensi.”
Ketika buruh kehilangan pekerjaan, itu disebut “penyesuaian.”

Bahasa menjadi alat paling halus untuk menyamarkan pengorbanan yang sebenarnya.

Dan di titik itu, Idul Adha berubah menjadi cermin yang retak. Ia memantulkan dua dunia yang berjalan bersamaan, tapi tidak pernah benar-benar bertemu: dunia ritual yang penuh makna, dan dunia kerja yang penuh ketimpangan.

Di sinilah seharusnya kita mulai curiga.

Apa jadinya jika pengorbanan tidak lagi kita lihat sebagai sesuatu yang sakral, tetapi sebagai sesuatu yang diproduksi secara sistematis?

Serikat buruh lahir dari kecurigaan itu.

Ia tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari kegelisahan. Dari kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara dunia kerja diatur. Bahwa pengorbanan telah dimonopoli hanya untuk yang di bawah, tetapi dinikmati oleh yang di atas.

Berorganisasi bukanlah tindakan netral. Ia adalah keputusan yang sering kali mahal. Ada pekerja yang dipindahkan, ditekan, bahkan disingkirkan karena memilih untuk tidak diam. Dalam bahasa yang lebih jujur, itu adalah bentuk pengorbanan.

Tapi berbeda dengan pengorbanan yang dipaksakan sistem, pengorbanan dalam perjuangan punya arah. Ia tidak tunduk dan ia melawan.

Di situlah letak perbedaannya.

Kurban dalam Idul Adha mengajarkan bahwa tidak semua yang kita miliki harus kita pertahankan. Tapi perjuangan buruh mengingatkan bahwa tidak semua yang kita lepaskan adalah pilihan bebas. Kadang, itu hasil dari relasi kuasa yang timpang.

Maka pertanyaannya bukan lagi: apa yang kita korbankan?

Tapi: siapa yang selama ini terus-menerus dikorbankan?

Dan lebih jauh lagi: mengapa itu terus terjadi tanpa perlawanan yang cukup?

Idul Adha sering dimaknai sebagai momentum berbagi. Daging didistribusikan, solidaritas dirayakan, kesenjangan seolah-olah dijembatani, setidaknya untuk satu hari. Tapi setelah itu, semuanya kembali seperti semula.

Pekerja tetap bekerja dengan ketidakpastian.
Upah tetap tertinggal dari biaya kebutuhan hidup.
Dan sistem tetap berjalan seperti tidak pernah ada yang salah.

Jika kurban hanya menghasilkan kenyang sesaat tanpa mengubah struktur, maka ia berhenti sebagai simbol yang tidak pernah menjadi alat perubahan.

Mungkin yang perlu dikurbankan hari ini bukan sekadar harta, tetapi upaya-upaya untuk mewujudkan dunia kerja yang adil.

Mungkin yang perlu disembelih bukan hanya hewan, tetapi cara berpikir yang menganggap pengorbanan buruh sebagai sesuatu yang wajar.

Dan mungkin, yang paling sulit: mengorbankan rasa takut untuk mulai bersuara.

Serikat buruh, dengan segala keterbatasannya, adalah upaya untuk menghentikan pengorbanan yang tidak pernah dipilih itu. Ia bukan sekadar organisasi, tetapi ruang untuk mengembalikan makna: bahwa manusia tidak seharusnya menjadi objek pengorbanan dalam sistem ekonomi.

Pada akhirnya, Idul Adha 27 Mei 2026 akan tetap berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya. Daging akan habis dibagikan, takbir akan mereda, dan hidup akan kembali berjalan.

Tapi ada satu hal yang bisa tinggal lebih lama jika kondisi mengizinkannya.
Kesadaran bahwa tidak semua pengorbanan itu suci.
Dan bahwa sebagian di antaranya harus dihentikan.

Serbuk adalah serikat buruh yang di dirikan pada 11 Desember 2013.

Posting Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.