Mereka datang dengan mimpi. Pekerja dari berbagai negeri, membawa keluarga, berharap hidup lebih baik dari tambang asbes biru. Mereka tidak tahu, setiap tarikan napas di sana adalah langkah kecil menuju kematian. Tak ada yang memberi tahu mereka. Atau lebih tepatnya, tak ada yang mau memberi tahu.
Di dalam pabrik, debu biru begitu tebal sampai pekerja tak bisa melihat rekan di sebelahnya. Mereka pulang dengan rambut dan pakaian berselimut serat mematikan. Peringatan sudah ada. Tapi mesin terus berputar, karena uang lebih berharga daripada paru-paru seorang buruh.
Lalu debu itu sampai ke rumah. Seorang ibu mengibaskan baju kerja suaminya sebelum dicuci. Anak-anak berlarian di halaman yang ditimbun limbah asbes, membangun istana pasir dari racun. Mereka tertawa. Mereka tidak tahu bahwa masa kecil mereka sedang dicuri perlahan.
Tambang ditutup tahun 1966. Bukan karena ada yang peduli pada nyawa mereka, tapi karena tak lagi menguntungkan. Semua orang pergi, mengira bahaya sudah berlalu. Padahal racun itu sudah bersarang di dada mereka, diam, menunggu. Sepuluh, dua puluh, empat puluh tahun lamanya.
Dan ketika ia bangun, ia tak kenal ampun. Mesotelioma. Asbestosis. Kanker paru. Ribuan orang meninggal dengan napas tersengal. Ada yang dulu hanya anak kecil yang tinggal di sana bersama orang tuanya. Ada keluarga yang menguburkan ayah, lalu ibu, lalu saudaranya sendiri, satu per satu.
Bagi yang tersisa, kota itu pun ikut dibunuh. Listrik diputus. Layanan dihentikan. Namanya dihapus dari peta. Penghuni terakhir pergi tahun 2022, dan bangunan terakhir diratakan. Tak ada tempat untuk pulang, tak ada tempat untuk mengenang. Seolah duka mereka pun harus ikut dikubur.
Australia melarang semua asbes pada 2003. Tapi apa artinya larangan bagi mereka yang sudah tiada? Keadilan yang datang terlambat tidak menghidupkan kembali siapa pun. Wittenoom adalah bukti paling menyakitkan bahwa setiap tahun penundaan dibayar dengan nyawa manusia.
Dan sekarang, lihat ke atas. Mungkin atap rumahmu, sekolah anakmu, atau pabrik tempat saudaramu bekerja masih terbuat dari asbes. Di Indonesia, asbes masih dipakai. Tukang yang memotongnya, buruh yang memproduksinya, keluarga yang tinggal di bawahnya. Apakah kita harus menunggu korban dulu?
Korban Wittenoom tidak bisa lagi bersuara. Maka kita yang harus bersuara untuk mereka, dan untuk diri kita sendiri. Dukung pelarangan asbes. Lindungi pekerja. Jangan biarkan anak-anak kita bermain di atas racun yang sama. Bagikan kisah ini, agar tak ada lagi kota yang harus dihapus dari peta.
